Industri Seluler Indonesia Akan Tumbuh Hingga 8% di Tahun 2012

Bisnis seluler mendapatkan cukup banyak tekanan, terutama sejak adanya moratorium layanan konten premium atau Value Added Service (VAS) sejak Oktober 2011 lalu. Tak hanya itu, layanan suara dan pesan singkat (SMS) pun juga tengah menghadapi tekanan besar.

Meskipun demikian, di tahun 2012, industri telekomunikasi seluler di Indonesia diprediksi akan tumbuh sebesar 6%-8%. Estimasi pertumbuhan industri seluler pada tahun ini didorong oleh pertumbuhan layanan data yang naik sekitar 55% dari tahun lalu. Bahkan, diperkirakan layanan VAS pun tetap ikut ambil dengan berkontribusi sebesar 6%.

Tak dapat dipungkiri, layanan data akan menjadi faktor pendorong utama pertumbuhan industri seluler pada tahun ini. Terlebih, minat masyarakat terhadap layanan data, terutama untuk saling berkirim pesan melalui media jejaring sosial, mulai menampakkan jalan untuk menjadi fondasi dari transformasi industri telekomunikasi seluler di Indonesia pada tahun-tahun mendatang.

Saat ini penetrasi layanan data masih di bawah 50%, sedangkan penetrasi kartu seluler di tahun ini akan mencapai 100% dari populasi penduduk Indonesia. Untuk itulah Sarwoto Atmosutarno, Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) yang juga Direktur Utama PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel), menyampaikkan bahwa operator harus siap menggelar layanan mobile data agar pertumbuhan industri seluler dapat dicapai.

Tak hanya secara industri, di tahun 2012 persaingan antaroperator akan semakin tinggi. Persaingan antaroperator ini akan berlangsung kompetitif, terutama bagi lima dari 10 operator di Indonesia yang menguasai pangsa pasar hingga 90%. Mereka adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk beserta anak usahanya, PT Telkomsel, PT Indosat Tbk, PT XL Axiata Tbk, dan PT Bakrie Telecom Tbk.

Dengan persaingan yang semakin kompetitif ini diharapkan pertumbuhan layanan data yang signifikan dapat terjadi, meski harus bergantung pada kesiapan ekosistem pendukung, yakni harga handset serta ketersediaan konten dan aplikasi.

“Terkait konten, operator harus mendukung tumbuhnya industri kreatif yang dimotori oleh content provider untuk menyediakan konten dan aplikasi,” pungkas Sarwoto.

Images: Google/Malangraya.web.id